h1

Jatilan Ring Road Utara Bukan Sekedar Mencari Uang

April 13, 2010

Yogyakarta(Rubikita) – Para pengamen Jatilan yang setiap hari beraksi di Jalan Ring Road Utara Yogyakarta tidak sekedar mencari uang-

Teriknya matahari tidak menyurutkan semangat Wahyudi, Roky, puji, dan wawan untuk “njatil” di jalan ring road utara Yogyakarta. Dengan berbekal alat musik kenong sederhana dan kostum lengkap layaknya tokoh ksatria, mereka menari untuk menghibur para pengendara yang sedang letih menunggu lampu hijau. Tarian yang gagah mereka pertontonkan di tengah jalan selama lampu merah menyala. 3 orang menari dan 1 orang menabuh kenong. Aktivitas itu mereka lakukan secara bergantian.

Memang darah seni sudah mengalir di diri mereka sejak kecil. Di Kota asal pengamen ini, Temanggung, mereka juga memiliki grup Jatilan bernama Langen Bekso Kencono Mudo. Namun, grup jatilan itu hanya tampil ketika ada seseorang yang mengundangnya untuk mengisi acara. Bahkan tawaran itu terkadang datang hanya beberapa kali dalam setahun. Maka untuk mengisi waktu kosong itulah mereka pun rela meninggalkan pekejaan tetapnya sebagai petani untuk merantau ke Yogyakarta. Namun, kehidupan di jalan tidak semulus yang mereka kira. Banyak halangan yang terkadang membuat mereka putus asa. Seperti yang diceritakan oleh Wahyudi (32), mereka pernah ditangkap satpol pp saat beraksi di perempatan Kentungan. Mereka dianggap berisik dan menganggu ketertiban jalan. Alat musik dan kostum yang mereka kenakan sehari-hari untuk mengamen pun disita dan tidak dikembalikan. Akibatnya mereka terpaksa berhenti mengamen selama beberapa hari sampai mereka mendapatkan gantinya.

Belum lagi bahaya yang datangnya dari lingkungan pengendara, Wawan (30) sudah beberapa kali tersenggol knalpot sepeda motor ketika berkeliling di sela-sela pengguna jalan. Namun, semua itu tidak seberapa bila mereka mengingat anak dan istri yang sedang menunggu mereka di kampung halaman. Bukan hanya itu saja, mereka juga memiliki tujuan mulia untuk turut serta melestarikan budaya jawa yang akhir-akhir ini sedikit dilupakan. Itulah mengapa mereka lebih memilih mengamen di jalan daripada berkeliling dari rumah ke rumah. Selain tidak capek, menurut mereka jalan adalah media yang efektif untuk kembali mensosialisasikan tarian tradisioanal asli Indonesia ini.

Posted by Hasta Nirmaya W

153080041

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: