h1

Pemanasan Global

Mei 11, 2010

Yogyakarta (Rubikita) Sudah diketahi bahwa bumi kita tengah mengalami pemanasan global yang cukup membahayakan kelangsungan hidup makhluk hidup. Lalu, bagaimana keadaan Indonesia jika terjadi pemanasan global?
Pemanasan atau global warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia” melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8.
Salah satu penyebab pemanasan global adalah efek rumah kaca. Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya.
Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.

Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F)dari temperaturnya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.
Indonesia, seperti banyak negara berkembang lain, nampaknya bukan salah satu penyumbang terbesar bagi pemanasan global saat ini. Walaupun demikian, jika pola penggunaan energi dan perkembangan industri serta perusakan hutan yang terjadi saat ini berlangsung terus, ada kemungkinan bahwa Indonesia akan turut bertanggung jawab terhadap terjadinya pemanasan global. Sebagai contoh, emisi karbon dioksida Indonesia saat ini terbesar di Asia Tenggara. Pada 2010 diperkirakan emisi karbon dioksida akan meningkat lima kali dari kadar tahun 1986, yaitu mencapai 469 juta ton. Hal ini terjadi akibat peningkatan tingkat konsumsi listrik rumah tangga dan industri serta penggunaan energi yang tidak efisien.
Pemanasan global akan menyebabkan naiknya permukaan air laut yang dikhawatirkan akan menenggelamkan daerah-daerah pesisir dataran rendah di bagian utara Jawa, timur Sumatera, selatan Sulawesi dan pulau-pulau Sunda Kecil. Tanda-tanda pemanasan global mungkin sudah mulai terlihat di Indonesia. Dalam sepuluh tahun terakhir, kita sudah mengalami tiga kali musim kemarau sangat panjang yang mempunyai dampak amat merugikan.

‘Strategi Antisipasi di Indonesia’
Untuk mengantisipasi dampak dari pemanasan global, pemerintah Indonesia membentuk Komisi Nasional untuk Evaluasi dan Monitoring Dampak Perubahan Iklim pada Lingkungan pada tahun 1990.
Komisi tersebut pernah merangkum satu “Strategi Antisipasi Dampak Perubahan iklim”. Selain itu sudah dikeluarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang “Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor” (KEP-35/MENLH/10/93), “Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak” (KEP-13/MENLH/3/95), dan “Program Langit Biru”
(KEP-15/MENLH/4/96) yang dimaksudkan mencegah terjadinya pencemaran udara dan mewujudkan perilaku sadar lingkungan.
Berbagai kebijakan tersebut sudah menampakkan hasilnya tetapi langkah tersebut belum cukup, diperlukan tindakan menyeluruh misalnya dalam bidang konservasi energi, penggunaan sumber energi terbarui, penghutanan kembali dan penerapan teknologi ramah lingkungan guna mengatasi serta mengurangi ancaman pemanasan global. Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran, marilah kita sama-sama peduli dan turut ambil bagian terhadap permasalahan yang terjadi ini. Kepedulian manusia menjadi solusi untuk keberlangsungan hidup seluruh makhluk hidup di bumi ini.

Posted by Martha Virlita

153080021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: